Jumat, 06 Januari 2017

Maaf untuk MAMA

Ku tahu jika ku belumlah mampu mengukir senyum itu. Akupun tahu jika selama ini aku hanya selalu merepotkanmu. Selalu membuatmu sendu. Melukaimu.
Namun, tahukah engkau, tiap luka yang aku torehkan untukmu itu jauh lebih melukaiku? Lebih membekaskan nokta yang mungkin untuk selamanya tak akan pernah terhapus? Kilasan" itu, tiap tetes air mata yang engkai teteskan telah menambah luka tiap belas yang tak pernah sembub. Hingga semuanya setiap waktu, setiap detik tak mampu membuatku tenang.
Aku menyayangimu, sungguh... aku sealaly berharap yang terbaik dan melakukannya dengan penuh kesungguhan. Namun, tiap kegagalan itu datang menghampiri, ketakutan yang ditimbulkan jauh lebih besar dari yang mampu engkau perkirakan, mam. Aku selalu selalu ketakutan, bahkan hanya untuk sekedar menceritakan kegelisan dan kegundahan yang aku rasakan.
Aku selalu menuruti keinginanmu untuk tak pernah menangis di depan Ayah, mam. Meskipun sekarang aku menangis, namun saat di depan kalian akan selalu senyum yang akan terpancar. Aku selalu menurutimu...selalu, bahkan ketika aku merasa tak mampu untukenanggung luka dan beban ini sendiri. Maaf, aku tak sekuat Kakak. Aku tak seberani kakak. Karena aku bukan kakak yang mampu ungkap semuanya. Aku hanya ingin menuruti inginmu untuk selalu tampak bahagia, mam.
Mam, tahukah engkau apa mimpiku? Aku ingin seperti sinetron" dimana anak dan mama bisa layaknya teman main. Aku ingin bisa ceritakan semua kepada engkau tanpa harus memilah. Aku ingin tertawa, menangis, berbagi mimpi dan cerita kepadamu,mam. Aku ingin engkau membantuku menghadapi rasa takutku,mam....
Mam, aku takut...
Aku sakit... amat sangat sakit, mam....
Mam, maa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar